Sabtu, 19 Desember 2015

Kekurangan

Diposting oleh dian wulansari di 16.49
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Berbicara ttg kekurangan, memanglah hal yg sdh sangat lumrah. Well, karena manusia memang tempatnya kurang.

Kekurangan adalah suatu hal yg melekat pada setiap insan. Dalam suatu hubungan dikatakan, bahwa masing2 individu hrs bisa menerima kekurangan masing2. Jika ada kekurangan pasangan yg tdk bs diterima lantas hrs bagaimana?

Haruskah memarahi pasangan kita, menyuruh dia berubah dan menyuruh berjanji utk tdk begitu lagi?

Apakah manusia bisa berubah secepat kilat?

Nampaknya butuh suatu perenungan mendalam ttg memahami kekurangan orang lain. Terutama kekurangan yg memang benar2 tdk bisa diterima.

Kamis, 19 November 2015

Tentang Abdul

Diposting oleh dian wulansari di 16.43
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Sudah lama sekali dari tulisan terakhir di blog ini. Maklum, saya anaknya bosenan dan jarang bisa istiqomah thd sesuatu ^-^ Tapi entah kenapa skr mood ngeblog datang lagi, sayang banget nih untaian kata yang ada di kepala kalau tidak diwadahi dgn baik bisa-bisa malah bikin galau :))

Kemarin (18-11-2015) akhirnya saya tergerak untuk membuka blog kembali. Setelah dilihat2, ahhh bosenin bingit nih blog. Udah mah tulisannya didominasi kegalauan trus bentuknya gitu2 aja. Saya aja pemiliknya agak males buat bacanya. Hahahahaha... Jadilah di tengah kegejean bekerja, saya dandanin ini blog. Googling sana sini, biar kece kek blog orang2. Taraaaaaaa... so far segini dulu yang bisa saya lakukan pada blog saya ini. Lumayan bisa kasih sedikit penyegaran ^-^

Tulisan terakhir di blog ini adalah ttg kerinduan saya terhadap seorang anak. Limpahan kegalauan dan keresahan saya karena saya tak kunjung dikaruniai malaikat kecil di rahim saya. Sementara saya melihat orang-orang cepat sekali dikasih keturunan. Walaupun saya belajar juga dari teman-teman yang sudah lebih lama menunggu kehadiran seorang anak. Tapi tetaplah saya hanya manusia biasa yang kadang melihat rumput tetangga selalu lebih hijau. hehe..

Salah satu alasan kenapa saya galau sekali karena belum hamil padahal saya sudah menikah selama 1 tahun adalah karena saya pernah divonis menderita kista endometriosis yang membuat siklus bulanan saya tidak lancar, kadang mens kadang ngga :(. Dan saat itu saya sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan suami, Jakarta - Balikpapan. Nantilah saya mungkin akan bercerita lebih jauh ttg LDM (Long Distance Marriage) dan Kista itu. Intinya saya galau, ga enak sama suami dan keluarganya, saya takut mereka menyesal karena telah mengambil saya sebagai istri dan menjadi bagian dari keluarga mereka. Pokoknya saya merasa tidak berguna. Udah mah jauh, ga bisa ngurusin suami, belum bisa hamil pulak. Aaaaakkkhhhhhhh....hidup saya waktu itu rasanya seperti Gaza.

Saya membiarkan pikiran negatif merasuki relung-relung hati. Makanya saya jadi tak merasa bahagia, kesepian dan tidak bisa menikmati hidup. Saya bekerja di Balikpapan dan telah berusaha untuk bisa pindah ke daerah asal saya. Alhamdulillah, saya dipertemukan Allah dengan seseorang yang orang Balikpapan tapi penempatannya di Bogor. Bogor adalah kota dimana suami saya berasal. Kalau saya bisa pindah ke Bogor, hidup saya akan damai. Kita bisa tinggal di atap yang sama, bisa berlindung di bawah selimut yang sama. Suami saya kerja di Jakarta. Tapi adalah hal yang biasa bukan, tinggal di Bogor kerja di Jakarta. Itu bukan masalah bagi kami, toh banyak sekali moda transportasi Bogor-Jakarta.

Satu tahun berlalu setelah pengajuan pindah saya layangkan. Tapi inilah hidup, selalu ada masalah. Ada aja yang jadi masalah, kurang ini kurang itu, belum ini belum itu. Gemeeessshhhhh... Saya berdoa sangat keras, siang malam. Entah berapa banyak air mata yang tercurah untuk memohon pada Allah. Allah memang superrrr baik, Dia menjawab doa saya dengan jalan yang sungguh tak dinyana. Tiba2 semuanya smooth, berjalan lancarrrr... Dan taraaaaaa, SK pindah saya jadi analis di Bogor datang jugaaaaa... SK datang bulan Februari 2015 dan baru bisa dieksekusi bulan Maret 2015. Dan tgl 18 Maret 2015 saya benar2 pulang... Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Jujur, ketika saya sedang riweuh2nya ngurus pindah penempatan, masalah "hamil" bukanlah prioritas saya. Pokoknya pindah dulu, abis itu saya galau lagi ttg hamil deh. Malah sempat mikir kalau udah pindah mau ke dokter buat promil, mau ini mau itu. Jadi sementara waktu saya sangat menikmati dan ikhlas dengan diri saya, seorang wanita menikah yang belum mempunyai anak. Saya menikmati detik demi detik waktu berdua bersama suami, dalam hal "hubungan suci" pun saya lebih lepas, gak mikirin pokoknya yang sekarang harus jadi, harus jadi. Gak sama sekali...

Kata orang, kalau kita sudah ikhlas thd sesuatu Allah akan memberikan sesuatu yang sangat mengejutkan. Allah memang Maha Pemberi Surprise. 

Waktu awal-awal pindah ke Bogor, saya dan suami masih tinggal bersama mertua di Cibinong (someplace in Kabupaten Bogor ^-^). Mertua punya tukang urut langganan, setiap bamer (bapak mertua) ngerasa ga enak badan, beliau selalu memanggil si tkg urut itu. Saya dan suami pun jadi disuruh ikutan urut, biar rileks aja katanya. Abisnya itu tukang urut agak sakti juga sih, hahaha... Kalau abis diurut, badan jadi enak, tidur nyenyak, kalau ada keluhan apa2 di badan jadi hilang (tapi ga semuanya hilang gitu aja sih abis itu. Maklum, ybs hanyalah manusia biasa.hehe..)

Beberapa kali diurut sama si bapak itu,dia selalu bilang, "wahhhh cepet nih hamilnya, bentar lagi hamil nih. Kalau tgl 20 belum mens pasti hamil nih". Saya, suami dan mertua cuma pandang2an dan senyam senyum aje. Hehe.. Bukannya apa2 nih ya, semuanya kan menjadi kehendak Allah ya.. Saya ga sama sekali mikirin apa kata si bapak urut, santai. Tp kata2nya dia racun juga sih. wkwkwkkwkw... Plus diracunin juga sama bumer (ibu mertua). "Mbak, sudah mens belum? Testpack ya nanti.". Eeeeaaaaaaa...jadi aja agak berharap2 cemas. Tapi saya masih berpikir kalaupun saya gak mens, ah mungkin ini masih efek dari kista itu.

Taraaaaaaaaaaa... waktu itu bulan April 2015. Sudah lebih dari tgl 20. Bumer selalu nanya  "Mbak, sudah mens belum? Testpack ya "Mbak, sudah mens belum? Testpack y... Pikiran saya jadi kacau. Hahahaha...

Akhirnya, suatu sore, lupa hari apa tgl berapa. Sehabis pulang jalan-jalan sama suamik, saya minta dianterin ke apotek terdekat. Suami saya langsung panik, "kamu kenapa yang, sakit? mau beli apa?". Saya lgsg beli testpack ga cuma 1. Tapi banyak dengan berbagai merk. Soalnya pengalaman dulu, telat mens, trs testpack garisnya cuma 1, terus ga mens2 lagi, jadi tiap hari kerjaan beli testpack aja. Pas cek ke dokter ternyata kista :(. Makanya buat make sure jangan cuma 1 beli testpack nya ya gaesss.. :))

Testpack pertama adalah testpack yang paling mahal. Yang bisa langsung dipipisin tanpa harus ditampung dulu air pipisnya. Waktu itu magrib2 saya coba. Santai.. Nothing to lose. Karena punya pengalaman testpack negatif :). Setelah beberapa saat timbul satu garis merah tegas. Dalam hati berkata, "ahhh familiar bgt sama ni garis". hihihi... Terusssssss... tiba2 samar2 ada garis satu lagi keluar tp ga jelas. Saking girangnya udah ga bisa mikir, lgsg keluar wc, ga pake cebok ga pake ngebanjur dulu bekas pipisnya *maap*. Langsung naik ke atas nemuin suami yang lg gogoleran ga jelas. "Yaanggg, kamu liat ini yang, ada garisnya ga sih ini?" Sambil nahan nangis. Terus suami bilang, iya ada yang tapi ga jelas, trs doski berkaca-kaca sambil meluk dan samar-samar terdengar dia mengucap "Alhamdulillah". 

Langkah berikutnya yang saya ambil adalah balik ke WC, cebok dan bersiin toilet. Whehehehehhe..

Akhirnya, saya dan suami dikaruniai anugerah luar biasa. Anugerah yang bertubi-tubi. Setelah berhasil pindah, saya pun hamil. Semuanya terjadi di saat yang tepat. Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan? Alhamdulillah.. All Praises to Allah..

Abdul. Kenapa dinamai abdul? Awalnya, jauh sebelum saya positif hamil. Saya dan suami pernah bercanda, lupa ttg apa tapi yang jelas lagi ngomongin Paula Abdul. Terus tiba2 berujung jadi papa abdul mama abdul. Jadilah pas ada janin di rahim saya, dia dipangiil Abdul karena saya dan suami adalah papa dan mama Abdul :)

Setelah saya cari artinya, ternyata Abdul adalah bhs.Arab dari Hamba Allah, dan Abdul adalah sebaik2 nama yang sangat disenangi Allah. Saya pikir, anak ini kan hamba Allah juga, diluar dia laki2 atau perempuan (dan kebetulan belum ketauan jenis kelaminnya) dia adalah tetap hamba Allah. Jadilah kami menyapanya dengan sebutan Abdul.

Sekarang Abdul sudah 8 bulan dalam kandungan, dia aktif dan "besar" (seperti papa mamanya. hehe..). Hasil USG menunjukkan kalau Abdul adalah perempuan. Maka dari itu, kadang dia dipanggil Abdulita. Hihihi.. Tapi saya dan suami lebih nyaman memanggil dia Abdul.

Abdul, betapa rindunya papa mama akan kehadiranmu, bahkan sebelum kamu ada di rahim ini. 
Kami yakin kamu akan jadi moodbooster yang handal buat kami.
Kami yakin hidup kami akan asyik bersama kamu.
Sehat-sehat ya, Anakku..
Doa terbaik selalu kami panjatkan untuk keselamatanmu.
Sampai ketemu sayang..






Rabu, 04 Maret 2015

Untuk Anakku

Diposting oleh dian wulansari di 12.27
Reaksi: 
0 komentar
Kepada Anakku, anak Ayah dan Ibu.

Halo Nak, ini Ibu.
Mungkin saat ini Ibu terlalu dini untuk membuat rangkaian kata kerinduan ini kepadamu. Ibu dan Ayah baru menikah 9 bulan. Sampai saat ini Allah belum memberikanmu izin untuk datang dan menetap di perut Ibu. Tapi kami berdua sudah rindu akan kehadiranmu, nak. Tak apa, kami akan sabar menantimu. Kami akan sabar sampai kami benar-benar siap menurut Allah. Nak, saat ini Ibu dan Ayahmu masih tinggal berjauhan. Pasti kamu tanya kenapa, iya kan? Ahhh..kamu memang cerdas anakku, persis seperti Ayahmu, kritis terhadap sesuatu. Jadi begini nak, singkat cerita Ibu harus bekerja di luar kota. Allah menempatkan Ibu di sini, nak. Kalau waktu itu Ibu bisa memilih, Ibu inginnya tak berada di tempat Ibu sekarang ini. Tapi apa daya nak, Ibu harus bertualang agar hidup Ibu berarti, agar Ibu punya cerita yang bisa Ibu bagi denganmu kelak. Untuk menyambung hidup, untuk berbagi, juga untukmu nak agar kamu bisa hidup dengan pantas. Tapi jangan khawatir sebentar lagi Ibu dan Ayah akan tinggal bersama. Yeaayy!!

Nak, Ibu penasaran sekali seperti apa rupamu nanti. Apakah bermata sipit seperti Ayah? Atau beralis tebal seperti Ibu? Alis tebal sedang ngetrend loh Nak sekarang. Hehehe.. Setiap Ibu melihat sepupu-sepupumu atau melihat anak-anaknya om tante teman-teman Ibu, Ibu selalu berbisik dalam hati "Ya Allah pantaskan aku untuk bisa melahirkan dan mengurus anak-anak seperti mereka". Nak, tolong sampaikan pada Allah, Ibu akan menunggu, Ibu dan Ayah akan memantaskan diri, Ibu dan Ayah akan meminimalisir intensitas pertengkaran yang gak penting, Ibu dan Ayah akan belajar menjadi dewasa. Semoga Allah berkenan membahagiakan kami berdua melalui kamu ya Nak. Karena sungguh tak ada kebahagiaan yang lebih dinantikan selain bisa melihatmu dalam dekapan kami dengan wajah yang lucu dan menggemaskan.

Nak, kata orang melahirkan itu sakit. Kadang dahi Ibu mengernyit kalau ada teman Ibu yang menceritakan sakitnya melahirkan. Tapi Nak, Ibu akan siap menghadapi semua itu. Allah bersama Ibu, Ayahmu ada disamping Ibu, dan Ibu akan memilikimu. Jadi, apa yang perlu Ibu takutkan?

Anakku, Ibu adalah seorang wanita Sunda sedangkan Ayahmu pria Jawa yang dibesarkan di lingkungan Sunda. Jadi, nanti kamu jangan bingung ya. Kalau kamu ditanya kamu orang mana jawab saja, Aku orang Indonesia ^_^

Nak, nanti kalau kamu sudah hadir di perut Ibu, Ibu akan menceritakan berbagai kisah padamu, memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran yang indah, mengelus-elusmu dan pasti sekali, Ayah selalu ingin cepat-cepat pulang ke rumah agar bisa bertemu dan bermain dengan kita berdua. Oia Nak, Ayahmu pandai sekali bermain gitar nanti pasti dia akan memainkan gitarnya untuk kita, nanti kita nyanyi sama-sama ya Nak. Ahhh, Ibu excited sekali Nak. Semoga kamu juga begitu ya..

Anakku yang ku sayang, kehadiranmu adalah penyempurna hidup Ibu. Ibu akan merasa komplit sebagai muslimah ketika kamu sudah datang nanti. Pesan Ibu, kamu boleh menjadi pintar seperti Ayahmu, tapi kamu jangan lupa untuk selalu sabar seperti Ibu. "Ahhh..Ibu narsis". Mungkin kamu berkata seperti itu ya Nak, hehehe.. Tapi tanpa "sabar" mungkin Ibu tak akan bisa sampai menuliskan ini untukmu. Kamu harus mencontoh kebaikan Akung (Ayanhnya Ayahmu-singkatan dari Eyang Kakung) dan Uti (Ibunya Ayahmu-singkatan Eyang Putri) dan jangan lupa untuk selalu bersujud di tengah malam dan di waktu dhuha seperti Nenek (Ibunya Ibu).

Nak, kami di sini menantikan kehadiranmu, bukan hanya Ayah dan Ibu. Ada Akung, Uti, Nenek. Ada juga Om Bocil (adiknya Ibu) dia pintar loh, Nak. Kamu boleh minta diajarkan kalau kamu kesulitan mengerjakan PR mu nanti. Ada Tante Mila (kakaknya Ayah), dia selalu ceria, dia akan senang hati bermain dan membuatkan baju untukmu. Ada Om Oka (suaminya Tante Mila) dia Polisi loh Nak, keren yah. Ada juga Kakak Dhira (sepupumu-anaknya Tante Mila dan Om Oka), kamu nanti pasti akan senang bermain dengannya, kamu pasti akan diajarkan nyanyi Jack n Jill atau Five Little Monkeys Jumping On The Bed. Waaaa..hidup kami akan meriah sekali ketika kamu sudah datang sayang.

Nak, yang Ibu harapkan dari kamu hanyalah doa. Doa anak yang sholeh yang akan mengantarkan Ayah dan Ibu kelak jika sudah harus bertemu Allah. Doa kamu akan menyelamatkan kami, Nak. Doa mu akan mengantarkan kami ke surganya Allah. Tolong hantarkan kami ke surganya Allah ya Nak. Kami berdua sadar bukan manusia sempurna yang tanpa cela. Tapi kami harap, kehadiranmu, doamu bisa menyelamatkan kami. Bisa menjadi tabungan pahala untuk kami. Bisa menjadi penerus cita-cita kami. 

Nak, sudah ya, Ibu ingin menangis. Ya itulah Ibu, mudah terharu. Kami tunggu kehadiranmu di tengah-tengah kami Nak. Walaupun kamu belum hadir di perut Ibu, Ayah dan Ibu mencintaimu.

Sampai ketemu ya, sayang.


Love,
Ayah dan Ibu
(panggilan Ayah dan Ibu sewaktu-waktu bisa berubah ya Nak ^-^)


Rabu, 25 Februari 2015

Sayang, Aku Pulang

Diposting oleh dian wulansari di 13.47
Reaksi: 
1 komentar
Balikpapan, siang hari setelah makan siang dan sangat ngantuk.

Ketika aku tulis surat cinta yang ke sekian kalinya ini, aku masih dalam keadaan terhenyak karena kejadian semalam. Aku telepon kedua ibuku, bukan untuk menanyakan/mengabari hal yang biasa tapi untuk sesuatu yang mereka nanti-nantikan dan mereka doakan selama ini.

Pertama, aku menelepon ibu kandungku, mamah. Awalnya kami hanya mengobrol biasa, girl's talk. Lalu obrolan mengerucut dan sampailah aku pada kabar "Mamah, aku akan pulang". Terdengar jelas suara kebahagiaan "Alhamdulillah" dilanjutkan dengan celotehan khasnya yang terdengar sangat bersemangat. Mau tidak mau, aku yang asalnya biasa-biasa saja jadi ikut bersemangat juga. Kami membicarakan hal-hal yang bisa kami lakukan setelah aku pulang nanti. Terima Kasih Tuhan, aku masih bisa mendengar tawa gembira ibuku yang sudah berjuang banyak untukku.

Kemuadian, aku menelepon ibu mertuaku, ibumu. Kalimat awalku setelah mengucap salam adalah "ibu, lagi apa?". Ya, seperti biasa kegiatannya ibu malam2 adalah menonton 7 Manusia Harimau. Hehehe.. Karena kami jarang bertelepon kalau gak urgent banget, makanya Ibu waktu itu agak heran, ada apa menelepon, tumben, nadanya agak panik. Aku bingung harus berkata apa, karena tiba-tiba aku jadi terharu sedikit menahan tangis. Makanya aku sudah tidak bisa basa basi lagi. Aku luncurkan kalimat "Bu, suratnya sudah ada, aku akan pulang, Bu". Aku menyadari kepulanganku terbuat dari doa-doa yang dipanjatkan oleh orang-orang disekelilingku, termasuk ibu tentunya. Tidak hanya doa, beliau berkontribusi langsung atas kepulangan ku ini. Karenanya aku berkata "Terima kasih bantuan dan doa2nya ya Bu", masih sambil menahan tangis. Seketika ibu bilang dengan menahan tangisnya, "Alhamdulillah..".. Kemudian telepon mati. Mungkin Ibu sudah tak kuasa untuk menahan tangis bahagianya. Terima Kasih Tuhan, karena Engkau masih memberikan kesempatan padaku untuk menangis bahagia dengan Ibu yang telah melahirkan kekasihku.

Sayang, sudah lewat 2 purnama kita berjauhan. Kita bertemu hanya untuk berpisah lagi. Bandara jadi saksi bisu perjuangan kisah cinta kita. Tembok kost-an menjadi sandaran ketika kita sedang menangis menahan rindu, tak jarang pula ketika kita sedang bertengkar kecil. Handphone menjadi alat tatap muka kita, menghubungkan dunia kita yang berjauhan.

Sampai pada saat cinta kita sudah dipersatukan dihadapan Tuhan, tapi fisik kita masih harus berjarak. Kadang aku bertanya harus sampai berapa purnama lagi yang aku lewati tanpa bisa memelukmu setiap saat. Kamu sedih tidak, sayang?
Kalau kamu tanya aku, aku sedih sekali. Banyak pertengkaran terjadi, kadang penyesalan juga muncul. Kita hidup dengan iba orang lain yang selalu menghampiri. Kasian ya, jauhan.. Begitu ujar mereka.

Sayang,
Dibalik kesedihan ini, aku menyisipkan satu kebanggaan padamu. Dari sini aku tau, bahwa kamu adalah lelaki hebat, yang memang dirancang Tuhan untuk menemani masa dewasa ku ini. Dewasaku ini tidak mudah, maka Tuhan mengirimkan kamu untuk menemani dan membimbingku. Walau jauh, kamu tetap menjadi milikku, tetap sabar menungguku, tetap mau bangun dini hari dan pergi ke bandara hanya untuk bertemu aku walaupun kurang dar 2x24 jam. Ah sayang, kamu super. Kamu hebat. Tak semua laki-laki bisa sepertimu. Kamu luar biasa. Aku tak heran, karena kamu lahir dari orang tua yang luar biasa. Kamu mewarisi kesuperan mereka, sayang. Dan aku bangga bisa menjadi pendamping lelaki super sepertimu.
Kesalahan yang kamu perbuat hanyalah sebuah bukti bahwa kamu adalah manusia biasa. Kamu bukan malaikat yang tanpa cela. Aku sadar itu. Tak apa berbuat salah, asal kamu tahu batasan-batasannya. Tak apa berbuat salah, asal jangan sengaja mengulanginya lagi. Tak apa berbuat salah, asal kamu selalu disampingku dan mengingatkan aku ketika aku berbuat salah.

Sayang,
Selalu ada harga dari sebuah pengorbanan dan selalu ada hasil dari sebuah perjuangan. Sabar dan kerja keras tak akan mengkhianatimu. Tuhan kita baik sekali sayang, Dia menggenggam doa-doa kita, mengumpulkan harapan kita, kemudian di waktu yang tepat Dia mengembalikan pada kita. Ahhh Tuhan, maafkan jika aku banyak mengeluh. NikmatMu luar biasa, Tuhan. Semoga Engkau selalu beserta kita, selalu menggenggam doa kita dan mengembalikannya lagi pada kita. Aamiin.

Sayang,
Terima kasih atas kesabarannya. Aku akan pulang, sayang. Dan percayalah, aku tak akan pergi lagi. Aku tak akan membiarkan kamu tidur sendirian lagi, makan sendirian dan beraktivitas sendirian.
Siap-siap ya sayang.. Akan selalu ada senyumanku di saat kamu pertama kali kamu membuka matamu di awal hari. Akan selalu ada ocehanku sesaat sebelum kamu tidur. Dan akan ada macam-macam hal tentang aku di kehidupanmu setiap harinya.

Terima kasih untuk keluarga dan teman-teman yang selalu mendoakan. Orang-orang yang baru saya kenal, ngonrol selintas kemudian mendoakan juga, terima kasih. Mungkin doa salah satu dari kalian lah yang dikabulkan Allah. Terima kasih pihak-pihak yang sudah membantu, diteror dan direpotkan. Semoga kebaikan dan keselamatan selalu beserta kalian. 

Sayang,
Tunggu ya..
Aku akan pulang..
Sabar, tunggu aku 14 hari lagi, bisa kurang atau bahkan lebih..
Siapkan senyuman terbaikmu dan mimik muka tertampanmu untuk menyambutku..
Siapkan pelukan terhangat untuk menyambutku..
Siapkan tatapan penuh kasih untuk menyambutku..

Sayang, aku pulang..
Tunggu aku.

*30HariMenulisSuratCinta

Minggu, 22 Februari 2015

Untuk Laki-Laki Pemetik Gitar

Diposting oleh dian wulansari di 10.37
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Selamat pagi Ibukota Kabupaten Bogor..
Selamat pagi suara merdu petikan gitar yang merasuk kalbu..

Suara petikan gitar itu masuk ke telingaku pagi ini. Memanjakan gendang telinga ini yg sejak kemarin sudah penat dengan suara kendaraan yang lewat

Adalah seorang laki-laki yang memetik kumpulan senar gitar itu menjadi sebuah nada. Nada yang membawaku pada sebuah harapan. Aaahhh..seandainya dia merangkai nada itu untuk aku. Seorang wanita yg memang haus akan romantisme namun hanya bisa tenggelam dalam (hanya sebatas) kode-kode belaka.

Untuk laki-laki pemetik gitar..
Mungkin aku bukan wanita yang engkau persembahkan sekumpulan nada yang engkau mainkan dengan gitarmu.
Mungkin aku bukan wanita yang bisa membangkitkan rasa romantismemu.
Mungkin telah ada wanita yang lebih beruntung dari aku, wanita di kehidupanmu dahulu yang engkau persembahkan padanya nada-nada indah dari petikan gitarmu lengkap dengan lirik-lirik romantis.

Untuk laki-laki pemetik gitar..
Tak apa jika kesempatan indah itu sudah jatuh ke tangan wanita yang lain.
Aku tak akan menuntutmu agar engkau memetik gitar dengan lirik romantis dan dengan sorotan mata penuh kasih ke arahku.

Yang perlu engkau tahu, suara petikan gitarmu yang random itu, sudah cukup membuatku bahagia.
Telingaku sudah cukup bahagia mendengarnya.
Hatiku sudah cukup dipenuhi rasa cinta untukmu yang semakin besar.

Untuk laki-laki pemetik gitar..
Tak apalah jika aku hanya bisa berharap semoga suatu saat, engkau memainkan gitarmu untuk aku, hanya untuk aku.. Tentu saja lengkap dengan lirik romantis dan tatapan hangat penuh cinta ke arahku.
Suatu saat..
Aku akan menunggu..

-Aku-
Wanita yang mengagumi suara petikan gitarmu dari ruang sebelah

#30HariMenulisSuratCinta

 

dian's Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea